Taneh Karo Simalem Bumi Turang

06 September 2018

Sejarah Desa Sembahe

Desa Sembahe pendiri kampung tersebut adalah orang yang bermarga Tarigan dan Ketaren (Karo-Karo). Orang yang pertama membuka lahan ialah marga Ketaren. Cerita yang berkembang dalam masyarakat terutama para orang tua tentang Sembahe adalah dahulu kala ada sebuah sebongkah batu besar berdiri kokoh di atas sebidang tanah. Gua Batu tersebut memiliki pintu dan ada ruangan didalamnya kira-kira 3x2 meter. Penduduk sekitar mempercayai jika Gua tersebut merupakan sebagai tempat tinggal Umang. Pada Kala itu, ada sebuah perkampung kecil di daerah Tanah Karo. Masyarakat setempat menyebutnya Kampung Uruk Rambuten. Tidak banyak yang tinggal disana, hanya beberapa keluarga saja dan rumah-rumah mereka dikelilingi pohon beringin yang besar, perkampungan kecil tersebut hanya dihuni oleh marga Ketaren.


Ada seorang petani di kampung tersebut, biasa dipanggil oleh masyarakat setempat "Bulang" (kakek) Ketaren, ingin membuka lahan untuk dijadikan tempat bercocok tanam. Ditengah perjalanan, Bulang melihat sesosok mahkluk hidup yang badannya kecil dengan bentuk kakinya terbalik, penduduk setempat menyebutnya Umang. Lalu si Umang bertanya sama si Bulang, “Mau kemana?”, lalu bulang menjawab kalau dia ingin membuka ladang untuk menanam padi. Umang pun menawarkan bantuan kepada Bulang, dengan syarat Bulang tidak boleh membawa perempuan dan anak kecil ke ladangnya. Bulang pun menyanggupinya, walaupun dia sendiri punya seorang istri yang baru saja melahirkan. Umang dan umang lainnya pun membantu Bulang tersebut untuk membuka lahan.

Seharian, lahan yang luas tersebut selesai dibersihkan dan siap untuk ditanam padi. Ketika senja datang, Bulang pulang ke rumah dan mengatakan kepada istrinya ada lahan untuk menanam padi yang sudah dibersihkan dan siap untuk ditanam. Bulang pun menyuruh istrinya agar mempersiapkan benih-benih padi yang akan ditanam besok. Sang istri pun heran, bagaimana bisa lahan yang luas yang dipenuhi pepohonan bisa dibersihakan dalam seharian. Sang istri pun merasa heran, tanpa bertanya sang istri tetap mempersiapkan benih padi yang besok akan ditanam. Keesokan  harinya, bulang kembali ke ladangnya dengan membawa benih padi yang akan ditanam. Namun tak disangka, Umang marah padanya karena dia telah  mengingkari janjinya. Bulang merasa bingung mengapa si Umang menuduhnya dengan mengatakan mengingkari janjinya. Padahal dia tidak pernah membawa perempuan ataupun anak kecil ke ladangnya. Ternyata, anak dan istri Bulang sudah berada dibelakangnya. Karena rasa penasaran, istri bulang mengikutinya dari belakang. Umang pun membatalkan perjanjiannya, dan lahan tersebut berubah kembali menjadi hutan seperti sedia kala.

Keesokan harinya, Bulang mencoba kembali membersihkan hutan tersebut untuk dijadikan ladang padi. Hari demi hari akhirnya berhasil bulang membersihkan hutan tersebut dan menemukan batu besar yang disebut Gua Umang atau Gua Kemang. Hingga kini, batu besar tersebut dipercaya oleh masyarakat desa Sembahe
sebagai rumah Umang yang pernah membantu Bulang.

Umang yang dalam Bahasa Karo yang artinya Jin atau Roh, yang menurut masyarakat karo berbentuk seperti manusia namun berukuran lebih kecil dan memiliki telapak kaki yang terbalik. Karena mistis, dahulu kala banyak orang yang bertapa dan membawa sesajen, bahkan setiap orang yang melewati desa Sembahe, orang-orang selalu singgah dan menyembah batu ini. Sejarah nama Desa Sembahe sendiri berawal dari kebiasaan warga yang selalu singgah dan menyembah batu tersebut, sehingga disebut SEMBAHE yang memiliki asal kata "SEMBAH'E" dalam Bahasa Karo yang artinya "Sembah Ini".

Dahulu kala gua batu ini bisa menghilang dan nampak secara tiba-tiba, jika umang tersebut pergi barulah nampak gua batu tersebut. Menurut masyarakat setempat, ada sosok umang yang menempati gua batu tersebut. Konon katanya ada jalan bawah tanah dari Gua Kemang tersebut menuju sebuah batu besar lainnya. Ada jalan bawah tanah dari gua batu tersebut ke tempat Batu Penjemuren, tempat jemuran padi si Umang tersebut. Batu Penjemuren adalah batu besar yang bagian atasnya datar. Batu tersebut berada di pinggir Sungai Sembahe, tapi jalan bawah tanah tersebut tidak pernah ditemui.

Pada jaman penjajahan di Tanah Karo, gua batu yang oleh masyarakat setempat pernah ditemukan hendak diangkat dan ingin dipindahkan ke Belanda, akan tetapi tidak bisa dipindahkan. Entah mengapa gua batu ini tidak bisa diangkat. Mungkin batu tersebut ada kekuatan magisnya yang berasal dari si umang tersebut. menurut masyarakat sekitar, sekarang pun masih ada penghuninya si umang tersebut. Kampung Uruk Rambuten adalah awal dari Desa Sembahe yang sampai saat ini masih dikenali. Akan tetapi sekarang tidak ada lagi penduduk yang menempati kampung tersebut. Kampung Uruk Rambuten tersebut berada dekat dengan lokasi jatuhnya pesawat terbang Garuda Indonesia pada 26-09-1997. Menurut warga setempat, ada kemungkinan pesawat terbang tersebut jatuh karena tersangkut pohon beringin besar yang tumbuh di tengah-tengah kampung Uruk Rambuten.

Desa Sembahe merupakan Karo Jahe menurut 7 Kelompok Orang Karo yang terdapat di kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang. Berikut ini adalah batas-batas wilayah desa Sembahe :

Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Bingkawan
Sebelah Selatan berbatasan dengan Buah Nabar
Sebelah Timur berbatasan dengan Batu Mbelin
Sebelah Barat berbatasan dengan Buah Nabar

Apabila ada perbedaan dengan yang sekarang mungkin sudah terjadinya pemekaran wilayah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar