Taneh Karo Simalem Bumi Turang

03 October 2014

Biografi Rakutta Sembiring Brahmana



















Rakutta Sembiring Brahmana lahir di sebuah desa yang berada di dataran tinggi Tanah Karo tepatnya Desa Limang. Pada masa pendudukan Belanda, Desa Limang termasuk ke dalam wilayah Sarinembah khususnya Urung Perbesi. Saat ini Desa Limang merupakan salah satu Desa yang berada pada wilayah Kecamatan Tiga Binanga. Mayoritas masyarakat Desa Limang berasal dari klan Marga Sembiring khususnya Sembiring Brahmana. Hal ini terjadi karena menurut sejarah yang beredar di dalam masyarakat desa ini, pendiri Desa Limang adalah Marga Sembiring Brahmana. Oleh karena itu tidak mengherankan bila hingga saat ini marga Sembiring Brahmana mendominasi wilayah Desa Limang. Desa Limang ini didirikan oleh Sembiring Brahmana sekitar tahun 1650-1700. Perhitungan ini didasarkan kepada generasi keempat Singian Sampalen yaitu Mangasi Sembiring Brahmana (1841-1923) dan Mbeliting Sembiring Brahmana (1943-1924).

Rakutta Sembiring Brahmana lahir dari buah cinta perkawinan pasangan Malem Sembiring Brahmana dengan Bayang Tua br Sebayang. Pasangan ini dikaruniai tiga orang anak yaitu, Rakutta Sembiring Brahmana sebagai putera sulung, Ngaloken Sembiring Brahmana sebagai putera kedua, dan yang terakhir pasangan ini
dikaruniai seorang puteri, namun nama dan jejaknya tidak diketahui karena pada saat usianya yang masih belia ia meninggal dunia, tepatnya pada masa penjajahan Belanda. Nama Rakutta Sembiring Brahmana yang diberikan oleh kedua orangtuanya diambil dari Bahasa Karo yang artinya pengikat. Nama ini diberikan dengan harapan kelak Rakutta dapat menjadi pengikat atau pemersatu dalam keluarga.

Ayah kandung Rakutta Sembiring Brahmana memiliki lima orang isteri. Isteri pertama Bayang Tua br Sebayang yang merupakan ibu kandung dari Rakutta sendiri. Pasangan ini memiliki tiga orang anak. Sesuai kebiasan dalam masyarakat Karo, nama anak pertama dijadikan sebagai nama panggilan bagi orangtuanya. Oleh karena Rakutta merupakan anak pertama, maka ayahnya dipanggil dengan Pa Rakutta dan ibunya dipanggil dengan Nd Rakutta.

Isteri kedua dari Malem Sembiring Brahmana adalah Nd Malem Sembiring br Sebayang. Dari perkawinan kedua ini, Malem Sembiring Brahmana memperoleh lima orang anak, empat orang perempuan dan satu laki-laki. Adapun nama dari anak-anak tersebut adalah Sendeng br Sembiring Brahmana, Nd Bahari br Sembiring Brahmana, Nd Sopan Sembiring Brahmana, Nd Rosmasari Sembiring Brahmana, dan Kamsah Sembiring Brahmana. Isteri kedua ini kemudian akhirnya cerai dari ayah Rakutta Sembiring Brahmana karena beliau tidak menyetujui adanya pernikahan-pernikahan selanjutnya setelah pernikahanya. Setelah cerai isteri kedua dari Malem Sembiring Brahmana ini tidak pulang ke rumah orangtuanya. Beliau tetap tinggal di Desa Limang karena tidak diijinkan oleh saudara laki-lakinya pulang ke rumah orangtuanya.

Isteri ketiga dari Malem Sembiring Brahmana adalah Terkelin br Sebayang. Dari perkawinan ketiga ini beliau dikaruniai tiga orang anak yang seluruhnya adalah perempuan. Adapun nama ketiga anak ini adalah Ronang br Sembiring Brahmana, Ingan br Sembiring Brahmana dan Layas br Sembiring Brahmana.

Pernikahan untuk keempat kalinya, Malem Sembiring Brahmana menikahi seorang gadis bernama Kapalen br Sebayang. Pernikahan ini dikaruniai empat orang anak yang terdiri dari satu orang perempuan dan tiga orang laki-laki. Adapun nama anak-anak dari pasangan ini antara lain Banta Mulia br Sembiring Brahmana, Imat Sembiring Brahmana, Kitetena Sembiring Brahmana, dan Rajun sembiring Brahmana.

Pernikahan kelima sekaligus merupakan pernikahan terakhir dari Malem Sembiring Brahmana dilakukannya dengan seorang gadis yang mempunyai marga yang sama dengan keempat isterinya. Gadis itu bernama Mulia br Sebayang. Pernikahan ini dikaruniai lima orang anak, empat orang perempuan dan satu orang laki-laki. Adapun nama kelima anak tersebut adalah Ukur br Sembiring Brahmana, Jumpa Sembiring Brahmana, Baru br Sembiring Brahmana,Tuah br Sembiring Brahmana dan yang terakhir Riah br Sembiring Brahmana.

Seluruh isteri dari Malem Sembiring yang merupakan ayah kandung Rakutta Sembiring Brahmana ini hidup berdampingan secara damai. Hal ini terjadi karena pada dasarnya mereka masih mempunyai ikatan kekerabatan yang sangat dekat. Bahkan isteri keempat dan kelima tinggal bersama dalam satu atap. Setelah meninggal isteri-isteri dari Malem Sembiring Brahmana ini dikuburkan dalam satu semen kecuali isteri kedua karena beliau telah diceraikan oleh ayahanda Rakutta Sembiring Brahmana ini.

Rakutta Sembiring Brahmana mempunyai dua orang saudara kandung dan 17 orang saudara tiri. Jumlah ini bukanlah jumlah yang sedikit dalam sebuah keluarga. Semua anak-anak dari Malem Sembiring Brahmana ini hidup dengan rukun dan didik agar kelak menjadi orang yang berguna bagi keluarga dan masyarakat banyak. Meskipun Rakutta mempunyai adik-adik tiri, beliau tidak pernah membeda-bedakan antara adik kandung dan adik tiri. Semua saudaranya diperlakukanya sama. Rakutta Sembiring Brahmana sering sekali berkumpul bersama adik-adik tirinya meski mereka tidak tinggal satu atap. Kebiasaan-kebiasaan Rakutta Sembiring Brahmana yang seperti ini tetap berlangsung hingga ia menikah kelak. Bagi adik-adiknya dia dikenal sebagai seorang abang yang mengayomi dan melindungi adik-adiknya. Didikian seperti ini mengakibatkan dikemudian hari Rakutta peka memperhatikan kondisi orang-orang disekelilingnya terutama setelah ia menjadi dewasa seperti mengikuti perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia dan ketika beliau kelak menjadi salah satu tokoh penting di Sumatera Utara (Bupati dan walikota).

Ketika Rakutta Sembiring Brahmana masih anak-anak, beliau sering mengikuti ayahnya dalam acara-acara adat seperti perkawinan, kemalangan, memasuki rumah baru, begitu pun upacara ritual menurut kepercayaan leluhur. Hal ini tidak mengherankan, karena ayah dari Rakutta ini sendiri adalah seorang Penetua Adat yang kerap kali dipanggil untuk menghadiri berbagai acara. Seringnya Rakutta mengikuti ayahnya dalam berbagai acara adat mengakibatkan lambat laun ia mengetahui mengenai adat-adat karo. Beliau juga sering berdiskusi dengan ayahnya mengenai adat-adat karo yang belum ia mengerti. Dengan demikian maka pemahaman mengenai adat-adat ini akan semakin banyak. Pemahaman Rakutta Sembiring Brahmana terhadap adat karo kelak dituliskannya dalam sebuah buku yang berjudul "Corat Coret Budaya Karo".

Ketika Rakutta Sembiring Brahmana menginjakan usia sekitar delapan tahun tepatnya pada tahun 1924, beliau memasuki bangku sekolah untuk pertama kalinya. Kedua orangtua Rakutta sepakat untuk menyekolahkan anak sulungnya ini di Sekolah Rakyat yang dikenal dengan HIS (Holland Inlandsch School). Pada masa itu belum ada sekolah di Desa Limang, oleh karena itu orangtuanya kemudian menyekolahkannya di Kabanjahe. Jarak antara Kabanjahe dan Limang cukup jauh sehingga tidak memungkinkan apabila Rakutta Sembiring Brahmana untuk pergi bersekolah setiap harinya dengan pulang pergi, sehingga pada saat itu Rakutta dititipkan orangtuanya di tempat neneknya di Kabanjahe. Sejak saat itu Rakutta Sembiring Brahmana tidak tinggal bersama orangtuanya lagi. Meskipun Rakutta Sembiring Brahmana telah tinggal bersama neneknya, namun kedua orangtuanya kerap kali mengunjunginya dan demikian juga sebaliknya beliau juga sering mengunjungi orangtua dan sanak saudaranya di kampung halamanya Desa Limang terutama pada saat libur sekolah berlangsung. Biaya kehidupan Rakutta Sembiring Brahmana setelah tinggal bersama neneknya di Kabanjahe tetap ditanggung oleh kedua orangtuanya.

Ketika Rakutta Sembiring Brahmana masih duduk di bangku Sekolah Rakyat yang dikenal dengan sebutan HIS, ibu kandung dari beliau yaitu Bayang Tua br Sebayang dipanggil oleh Tuhan Yang maha Esa untuk menghadap kepadaNYA. Peristiwa ini tentunya melukiskan luka yang mendalam bagi Rakutta Sembiring Brahmana yang masih kecil. Kehilangan salah satu orang yang paling dicintainya membuatnya sedikit rapuh. Namun sebagai seorang anak laki-laki yang paling sulung dan berjiwa besar, Rakutta tidak larut dalam kesedihan. Rakutta Sembiring Brahmana pun akhirnya bangkit dan kembali pada kegiatannya seperti biasa.


Masa Remaja Rakutta Sembiring Brahmana
Setelah tamat dari HIS (Holland Inlandsch School) pada tahun 1927, Rakutta Sembiring Brahmana melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Rakutta Sembiring Brahmana melanjutkan sekolahnya di Taman Siswa yang berada di Kota Medan. Selama Rakutta Sembiing Brahmana di Medan, ia tinggal bersama salah satu kerabatnya bernama Hj Harun yang dikenal dengan julukan Pak Haji. Rakutta Sembiring Brahmana tinggal di Kampung Lalang Medan bersama pasangan suami istri yang sudah lama menikah dan tidak mempunyai anak, oleh karena itu mereka kemudian mengangkat Rakutta Sembiring Brahmana menjadi anak angkat mereka.

Rakutta Sembiring Brahmana masuk ke sekolah lanjutan yang dikenal dengan Taman Siswa pada tahun 1927. Selama sekolah di Taman Siswa ini, ia dikenal dengan anak yang mudah bergaul dan banyak disenangi orang, oleh karena itu tidak mengherankan apabila Rakutta Sembiring Brahmana sangat dekat dengan gurunya salah satunya ialah Pak Sugondo. Rakutta Sembiring Brahmana juga dikenal sebagai anak yang mempunyai prestasi yang membanggakan karena ia termasuk ke dalam ranking kelas.

Selama bersekolah di Taman Siswa Medan, Rakutta Sembiring Brahmana kerap kali pulang ke kampung halamanya di Desa Limang terutama pada saat sekolah libur. Untuk sampai ke kampung halamanya Rakutta Sembiring Brahmana harus naik angkutan dari Medan yang pada saat itu sangat sulit ditemukan. Satu-satunya angkutan umum yang menghubungkan Medan-Berastagi adalah PMG (Persatuan Motor Gunung). Dengan angkutan ini Rakutta Sembiring Brahmana bisa sampai ke Desa Perbesi dan dari desa ini kemudian perjalanan dilanjutkan lagi ke Desa Limang dengan berjalan kaki. Perjalanan dari Desa Perbesi ke Desa Limang dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama 3 jam. Perjalanan ini terpaksa dilakukan karena tidak ada angkutan yang sampai ke desa ini.

Ketika Rakutta Sembiring Brahmana pulang ke kampung halamanya di Desa Limang, beliau tidak pernah ikut bersama orangtuanya ke ladang atau menggembalakan kerbau. Biasanya selama liburan Rakutta Sembiring Brahmana menghabiskan waktunya dengan membaca buku-buku atau menulis. Rakutta Sembiring Brahmana ini sangat menyenangi buku-buku yang berbau politik. Meski Rakutta Sembiring Brahmana ini tidak pernah ikut bersama orangtuanya ke ladang atau menggembalakan kerbau, kedua orangtuanya tidak pernah memarahinya karena mereka menyadari hobbi dari anak sulungnya ini.

Selama Rakutta Sembiring Brahmana sekolah di Taman Siswa, beliau tetap dibiayai oleh orangtuanya. Biaya kehidupannya terkadang diantar oleh ayahnya ke Medan, lain waktu dikirim lewat pos, dan terkadang juga dibawa oleh Rakutta Sembiring Brahmana ketika beliau ketepatan pulang ke kampung halamannya.

Rakutta Sembiring Brahmana mulai menunjukkan ketertarikanya di dunia politik sejak ia masuk ke sekolah Taman siswa. Di sekolah ini beliau ikut dalam organisasi sekolah yang ditujukan untuk seluruh siswa Taman Siswa. Organisasi yang diikuti oleh Rakutta Sembiring Brahmana di Taman Siswa ini berupa organisasi bawah tanah. Organisasi ini merupakan salah satu organisasi tersembunyi dan tak boleh diketahui keberadaanya oleh pemerintah Belanda. Keikutsertaan Rakutta Sembiring Brahmana dalam organisasi sekolah ini dikarenakan kewajiban yang dibebankan oleh pihak sekolah kepada seluruh siswa Taman Siswa. Guru-guru dari Sekolah Taman Siswa ini kebanyakan berkecimpung di dalam dunia politik, sehingga mereka mengajak siswanya untuk turut serta dalam pergerakan melawan penjajahan Belanda.

Ikut sertanya Rakutta Sembiring Brahmana dalam organisasi bentukan sekolahnya secara tidak langsung menambah pemahamannya akan dunia politik. Didikan dari Taman Siswa ini juga membentuk kepribadian Rakutta Sembiring Brahmana yang berani mengambil resiko dalam menentang penjajah. Rakutta Sembiring Brahmana semakin peka akan nasib bangsanya sehingga ia mau meninggalkan kemewahan yang ia dapatkan dari orangtuanya dan bergabung bersama pejuang-pejuang di era 1930-an itu. Selama sekolah di Taman Siswa beliau telah masuk menjadi salah satu simpatisan Partai Nasional Indonesia (PNI).

Setelah tamat dari Sekolah Taman Siswa Medan pada tahun 1930, beliau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Beliau melanjutkan pendidikannya di sekolah yang sama yaitu Taman Siswa Medan. Pada pertengahan tahun 1930 Rakutta Sembiring Brahmana meninggalkan pendidikannya karena keinginanya untuk masuk menjadi anggota Partindo. Masuknya Rakutta Sembiring Brahmana ke dalam Organisasi Partindo tidak terlepas dari dibubarkannya Partai Nasional Indonesia (PNI).


Kehidupan Berumah Tangga
Setelah berhenti dari Taman Siswa, Rakutta Sembiring Brahmana pulang ke kampung halamannya di Desa Limang. Rakutta Sembiring Brahmana kemudian disarankan oleh ayahnya untuk segera berumah tangga, dan karena itu adalah permintaan ayahnya, Rakutta Sembiring Brahmana tak kuasa menolak sehingga ia meluluskan permintaan dari orangtua yang sangat dikasihinya itu. Seperti pada umumnya masyarakat Karo, biasanya seorang laki-laki disarankan oleh orangtua untuk menikahi anak perempuan dari saudara laki-laki ibunya yang disebut Impal. Perkawinan dengan impal menurut pola kekerabatan masyarakat Karo merupakan perkawinan yang ideal. Perkawinan ini diharapkan dapat menjaga agar tali kekerabatan tetap terjalin terus-menerus. Rakutta Sembiring Brahmana kemudian disuruh untuk memilih salah satu dari puteri pamannya (mama) untuk dijadikan pendamping hidupnya. Rakutta Sembiring Brahmana memantapkan pilihanya kepada salah seorang anak perempuan pamannya bernama Ngamini br Sebayang.

Rakutta Sembiring Brahmana akhirnya menikahi impalnya. Pernikahan Rakutta Sembiring Brahmana dengan impalnya Ngamini br Sebayang dilaksanakan di Desa Perbesi. Pernikahan ini dilaksanakan di Desa Perbesi karena desa tersebut merupakan desa tempat isterinya berasal. Pernikahan Rakutta Sembiring Brahmana
dengan Ngamini br Sebayang dilakukan dengan acara adat Karo. Pada hari yang telah ditentukan dilaksanakanlah pesta perkawinan Rakutta Sembiring Brahmana dengan Ngamini br Sebayang. Hari itu semua Sangkep Nggeluh dari kedua belah pihak hadir untuk memuliakan pesta perkawinan itu. Apabila pesta diadakan Sintua (agung), yakini dengan memotong kerbau dan Erkata Gendang, dan kalimbubu membawa ose anak berunya (sukut). Pertama-tama kalimbubu si ngalo ulu emas akan memasangkan ose penggantin laki-laki dan si nereh memasangkan ose pengantin perempuan. Selanjutnya semua sukut iosei oleh kalimbubu si ngalo ulu emas janah simaba osenya. Dalam pelaksanaan pesta perkawinan ada ini dipotong beberapa kerbau milik orangtuanya, selain karena ayahnya mempunyai kerbau yang cukup banyak, juga karena yang menikah adalah putera sulung. Seharusnya dilakukan demikian sesuai dengan adat istiadat
perkawinan di tengah-tengah masyarakat Karo.

Setelah menikah Rakutta Sembiring Brahmana beserta isterinya menetap di Desa Limang. Meski Rakutta Sembiring Brahmana telah menikah, beliau tidak pernah meninggalkan kesibukannya di dunia politik, beliau justru lebih gencar melakukan kegiatan politik setelah ia menikah. Rakutta kerap kali meninggalkan isterinya sendirian dan pergi ke desa-desa yang ada di Tanah Karo untuk menyampaikan pidato-pidatonya. Rakutta Sembiring Brahmana sering tidak pulang ke rumah hingga berhari-hari bahkan sampai satu minggu. Hal-hal seperti ini tidak membuat isterinya marah karena ia sangat mengerti dan mendukung kegiatan suaminya itu.

Rakutta Sembiring Brahmana dan teman-teman sepergerakanya tidak hanya berkumpul di Desa Limang. Mereka mempunyai beberapa tempat perkumpulan dan biasanya tempatnya berpindah-pindah setiap saat. Adapun tempat-tempat yang sering dijadikan mereka sebagai tempat pertemuan antara lain: Tiga Nderket, Tiga Binanga dan Kuta Cane. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan jejak mereka dari Belanda karena pada waktu itu bagi orang-orang yang dianggap membangkang dan melawan terhadap Belanda pasti ditangkap. Meskipun nyawanya terancam apabila sewaktu-waktu Belanda mengetahui keterlibatan dirinya dalam pergerakan, Rakutta Sembiring Brahmana tidak pernah takut. Salah satu alasannya adalah ayahanda Rakutta Sembiring Brahmana mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan Belanda dan para Sibayak.

Dari pernikahan Rakutta Sembiring Brahmana dengan isterinya Ngamini br Sebayang, beliau dikaruniai enam orang anak yang terdiri dari tiga orang putera dan tiga orang puteri. Nama anak-anak Rakutta Sembiring Brahmana pada umumnya dipengaruhi oleh nama-nama yang berbau Islam. Hal ini tidak terlepas dari masa lalu Rakutta Sembiring Brahmana yang pernah tinggal bersama keluarga haji.
Adapun nama anak-anak Rakutta Sembiring Brahmana dan Ngamini br Sebayang adalah :
  1. Brahmaputera Sembiring Brahmana
  2. Netapken Sembiring Brahmana
  3. Mulih Hitdjrah Sembiring Brahmana
  4. Padjariah br Sembiring Brahmana
  5. Asahanifah br Sembiring Brahmana
  6. Patih Muka br Sembiring Brahmana
Selama di Desa Limang isteri Rakutta Sembiring Brahmana hidup dari bertani. Beliau harus mendidik anak-anak mereka sendirian karena suaminya sering sekali berpergian untuk kegiatan politik. Pernah suatu ketika pada masa pendudukan Jepang di Tanah Karo, Rakutta Sembiring Brahmana diminta oleh ayahnya untuk meninggalkan kegiatan politiknya. Hal ini dimaksudkan oleh ayahnya untuk menjaga keselamatan putera sulungnya ini.


Kegiatan Politik Rakutta Pada Masa Penjajahan
Tahun 1930 Rakutta Sembiring Brahmana menjadi pendiri dan anggota pengurus Indonesia Muda cabang Medan. Rakutta Sembiring Brahmana memasuki Partindo karena kemudian Partai Nasional Indonesia dibubarkan. Partai Nasional Indonesia dibubarkan dalam konperensi luar biasa di Jakarta tanggal 25 April 1931. Bubarnya Partai Nasional Indonesia ini tidak terlepas dari ditangkapnya pimpinan PNI di berbagai daerah. Sehari setelah pembubaran PNI, beberapa tokoh PNI seperti Mr Sartono, Sukemi dan Munadi kemudian membentuk partai baru. Pada tanggal 29 April 1931 dibentuklah Partai Indonesia (Partindo). Partindo merupakan wajah baru dari PNI dan merupakan wadah baru bagi kaum nasionalis sebagai alat perjuangan seperti Rakutta Sembiring Brahmana.

Perjuangan Rakutta Sembiring Brahman untuk membebaskan negeri ini dari cengkeraman penjajah terwujud pada masa pendudukan Jepang di Indonesia khususnya di Tanah Karo. Rakutta Sembiring Brahmana kemudian mencari orang-orang yang sepaham dengannya untuk bersama-sama berjuang. Ada beberapa tokoh yang akhirnya ditemukan Rakutta Sembiring Brahmana dan kemudian bersama-sama menggalang kekuatan untuk mematahkan kekuasaan pemerintah Jepang yakni Selamat Ginting dan Keterangan Sebayang. Tidak diketahui dengan pasti bagaimana awalnya pertemuan antara ketiga tokoh pergerakan Tanah Karo ini, namun yang jelas ketiga tokoh ini mempunyai pandangan yang sama mengenai pendudukan Jepang di Tanah Karo.

Setelah pertemuan Rakutta Sembiring Brahmana dengan Selamat Ginting dan Keterangen Sebayang, kemudian mereka menjalin kontak dengan tokoh-tokoh perjuangan lainnya seperti Nerus Ginting dan Nolong Ginting. Rakutta Sembiring Brahmana, Selamat Ginting, Keterangen Sebayang, Nolong Ginting dan Nerus Ginting sepakat untuk membentuk Komite Indonesia cabang Karo.

Kegiatan pertama dari Komite Indonesia cabang Tanah Karo adalah membuat resolusi untuk dibacakan dihadapan para pembesar-pembesar Jepang yang berada di Kabanjahe. Pembuatan resolusi ini dimaksudkan untuk dapat lebih leluasa bergerak, artinya tidak dicurigai oleh Jepang dan kaki tangannnya yang mulai berkeliaran. Untuk membacakan resolusi tersebut maka berangkatlah ke Kabanjahe Rakutta Sembiring Brahmana, Selamat Ginting, Keterangen Sebayang, Nolong Ginting dan Nerus Ginting. Sebagai juru bicara resolusi ini ditunjuklah Rumpia Bukit.

Setelah masuk ke ruangan kerja pembesar Jepang kemudian Rakutta Sembiring Brahmana membacakan resolusi yang sudah dipersiapkan. Inti dari resolusi tersebut adalah bahwa rakyat Indonesia mengucapkan terima kasih kepada Jepang yang telah membebaskan Indonesia dari cengkeraman penjajahan Belanda dan mengharapkan supaya kemerdekaan Indonesia dipercepat untuk bersama-sama membina Asia Timur Raya. Para pembesar Jepang hanya dapat diam dan terpaku mendengarkan isi resolusi yang dibacakan oleh Rakutta Sembiring Brahmana.

Untuk menyatukan dan menyalurkan segala potensi yang ada pada masyarakat agar dapat membantu Jepang, maka dibentuklah Badan Oentoek Membatoe Pertahanan Asia yang disingkat dengan BOMPA.
Bompa yang berada di Medan kemudian membuka cabang-cabang baru di berbagai daerah termasuk di Tanah Karo. Bompa di Tanah Karo dipimpin oleh Raja Oekum Sembiring seorang pengusaha otobis yang terkenal di Tanah Karo dengan bis bermerek Cap Nenas dan Rakutta Sembiring Brahmana sebagai wakilnya. Bompa cabang Karo kemudian membuka ranting dan anak ranting sampai ke kampung-kampung yang ada di Tanah Karo. Dengan adanya kegiatan Bompa kemudian banyak pemuda-pemuda Karo yang akhirnya memasuki Heiho (tentera sukarela) dan Gyu Gun (pembela tanah air).

Ada beberapa tokoh Bompa di Tanah Karo seperti Matang Sitepu, Rakutta Sembiring Brahmana, Kendal Keliat, Raja Oekum Sembiring, Nerus Ginting Suka, Djema Bangun dan lain-lain. Raja Oekum Sembiring meminta kepada Rakutta Sembiring Brahmana agar organisasi Bompa ini dapat memasyarakat. Melalui musyawarah diputuskan untuk menggunakan Bompa sebagai sarana untuk melanjutkan pergerakan kebangsaan Indonesia. Pada saat itu Jepang berjanji akan membantu Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan oleh karena itu Bompa ini sangat giat untuk memepersiapkan kemerdekaan dari penguasa Jepang. Rakutta Sembiring Brahmana ditugaskan dewan pimpinan Pusera mendampingi Raja Oekum Sembiring dan anggota Bompa yang lain untuk mengunjungi seluruh Kerajaan Urung di Tanah Karo.


Kegiatan Politik Rakutta Pada Masa Kemerdekaan
Proklamasi kemerdekaan di Medan diumumkan setelah melalui perdebatan antara tokoh-tokoh pergerakan seperti Selamat Ginting, Marjuki dan Rakutta Sembiring Brahmana dengan tokoh-tokoh yang berasal dari kalangan pemerintah seperti Karim MS. Karim MS berpendapat bahwa mengumumkan proklamasi itu merupakan hal yang mudah tetapi mempertahankannya cukup sulit. Setelah didesak oleh Selamat Ginting dan kawan-kawan maka akhirnya proklamasi kemerdekaan itu akhirnya diumumkan pada 30 September 1945 oleh Teuku Mohammad Hasan.

Pengumuman proklamasi kemerdekaan Indonesia di Kota Medan berjalan dengan lancar. Setelah proklamasi kemerdekaan dibacakan kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pawai di lapangan merdeka. Pawai ini dikawal oleh puluhan pemuda yang dilengkapi dengan granat Inggris, yang masing-masing mengantongi sebanyak dua buah. Untuk menyebarluaskan berita proklamasi ke seluruh daerah di Sumatera Utara dibentuklah Barisan Pemuda Indonesia (BPI) yang dipimpin oleh Matang Sitepu.

Rakutta Sembiring Brahmana masuk ke dalam salah satu daftar pengurus Barisan Pemuda Indonesia (BPI) setelah dilakukannya reorgansisasi. Kepengurusan baru dari Barisan Pemuda Indonesia terdiri dari :
  1. Ketua I : Tama Ginting
  2. Ketua II : Untung Rahmat
  3. Ketua III : Netap Bukit
  4. Tata Usaha : Muhammad Saleh
  5. Bendahara : Roga Ginting
  6. Kelaskaran : Krilangna Martinus Lubis dan Bahari Efendi Siregar
  7. Tata Usaha I : Djema Bangun
  8. Tata Usaha II : Djendam Kembaren
  9. Keuangan/Perbekalan : Koran Karo-karo
  10. Pengawas : Ngembar Meliala, Radjaingat Purba, dan Syaifuddin Siregar
  11. Seksi Sosial : L Siahaan
  12. Seksi Penerangan : Rakutta Sembiring Brahmana
  13. Seksi Persenjataan : L. R. Munthe
  14. Komandan Pasukan Teras : Djamin Ginting, dan Bom Ginting
  15. Seksi Pengangkutan : Tagu Simanjorang dan Maspersada
  16. Penasehat : Sibayak Ngerajai Meliala dan Nerus Ginting Suka
Orang-orang yang ikut ke dalam Barisan Pemuda Indonesia ini tidak lagi dibatasi pada umur tetapi didasarkan kemampuan fisik dan semangat perjuangannya untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan. Barisan Pemuda Indonesia terbentuk dari gabungan beberapa barisan pejuang. Adapun barisan-barisan tersebut antara lain :
  1. Gyugun dan Heiho yang terdiri dari Djamin Ginting, Nelang Sembiring dan Bom Ginting
  2. Pusera yang terdiri dari Rakutta Sembiring Brahmana dan Selamat Ginting
  3. Talapeta yang terdiri dari Payung Bangun, Gandil Bangun, Meriam Ginting, dan T.M. Sinulinga
  4. N.V. Maspersada yaitu Koran Karo-karo
  5. Dari potensi-potensi lain seperti Tama Ginting, Matang Sitepu, R.M Pandia, Batas Perangin-angin, dan Turah Perangin-angin.
Barisan Pemuda Indonesia kemudian berubah namanya menjadi PRI yang kemudian berubah lagi menjadi Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia). Pesindo ini akhirnya dibubarkan dan kemudian diganti menjadi Napindo yang dikenal dengan Napindo Halilintar. Pada saat yang bersamaan terbentuklah BKR (Badan Keamanan Rakyat) yang merupakan tentara resmi pemerintah. Badan Keamanan Rakyat ini terbentuk dari hasil rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Badan kemanan rakyat ini kemudian terbentuk pula di Tanah Karo. Ada beberapa pengurus badan keamanan rakyat untuk daerah Tanah Karo yakni Djamin Ginting, Nelang Sembiring, Bom Ginting, Nahud Bangun, Kapiten Purba.

Pada Bulan Januari 1946 di Tanah Karo dibentuk Komite Nasional Indonesia untuk wilayah Karo. Adapun susunan pengurus Komite Nasional Indonesia wilayah Tanah Karo adalah :
  1. Ketua : Rakutta Sembiring Brahmana
  2. Sekertaris : Mbaba Bangun
  3. Anggota : Selamat Ginting, Tama Ginting, Koda Bangun, Nitipi Bangun, Tokoh Purba, L. Siahaan, Mbaba Bangun, Sutan Soaloan, Nolong Ginting Suka, Netap Bukit, Rachman Sebayang dan Kunci Purba.

Rakutta diangkat menjadi Bupati di Tanah Karo
Pada masa penjajahan Jepang susunan pemerintahan di Tanah Karo tidak banyak mengalami perubahan. Pada masa kemerdekaan hingga terjadinya Revolusi Sosial pada tahun 1946 pemerintahan Tanah Karo dikepalai oleh Sibayak Ngerajai Meliala. Bentuk pemerintahannya adalah pemerintahan swapraja berupa landschaap-landschaap sama seperti pada masa pemerintahan Belanda. Ketika revolusi sosial terjadi pemerintahan swapraja ini dihapuskan, demikian juga dengan kekuasaan sultan, sibayak, raja urung dan lain sebagainya dihapuskan.

Setelah adanya penghapusan swapraja (daerah yang berpemerintahan sendiri) dan kekuasaan para sibayak serta raja urung maka Komite Nasional Indonesia Tanah Karo mengadakan musyawarah untuk menentukan masa depan daerah ini. Musyawarah ini diadakan di Kuta Gadung pada 13 Maret 1946.
Musyawarah ini dipimpin oleh Tama Ginting. Dari musyawarah ini dihasilkan beberapa keputusan antara lain:
  1. Membentuk pemerintahan Kabupaten Karo dengan melepaskan diri dari keterikatan administrasi kerajaan
  2. Menghapus sistem pemerintahan swapraja pribumi di Tanah Karo dengan sistem pemerintahan demokratis berdasarkan kedaulatan rakyat
  3. Kabupaten Karo diperluas dengan memasukkan daerah Deli Hulu dan daerah Silima Kuta Cingkes
  4. Mengangkat Rakutta Sembiring Brahmana menjadi Bupati Karo, KM Aritonang sebagai patih, Ganin Purba sebagai sekertaris dan Kantor Tarigan sebagai wakil sekertaris
  5. Mengangkat kepala desa sebagai pengganti raja urung yang sudah dihapuskan
Rakutta Sembiring Brahmana diangkat menjadi bupati Tanah Karo pada tahun 1946. Diangkatnya Rakutta Sembiring Brahmana sebagai kepala pemerintahan di Tanah Karo mengawali karier Rakutta Sembiring Brahmana dalam menjadi bupati. Rakutta Sembiring Brahmana merupakan bupati pertama di Tanah Karo setelah sebelumnya kepala pemerintahan sementara dipegang oleh Ngerajai Sembiring Meliala.

Setelah Kabupaten Karo terbentuk dan Rakutta Sembiring Brahmana diangkat menjadi bupati, pada 18 April 1946 diputuskan bahwa wilayah Kabupaten Karo dibagi menjadi tiga kewedanan dan tiap kewedanan terdiri dari lima kecamatan. Adapun nama-nama kewedanan dan kecamatan yang ada di Tanah Karo pada saat Rakutta Sembiring Brahmana menjabat sebagai bupati di Tanah Karo adalah :

1. Kewedanan Karo yang dipimpin oleh Netap Bukit terdiri dari:
Kecamatan Kabanjahe, Camatnya Nahar Purba.
Kecamatan Simpang empat, Camatnya Ngangkat Radja Sinulingga.
Kecamatan Payung, Camatnya Kendal Keliat.
Kecamatan Barus Jahe, Camatnya Matang Sitepu.
Kecamatan Tigapanah, Camatnya Djamin Karo Sekali.

2. Kewedanan Karo Hilir yang dipimpin oleh Tama Sebayang terdiri dari:
Kecamatan Tiga Binanga, Camatnya Molai Sebayang .
Kecamatan Munthe, Camatnya Ngembar Meliala.
Kecamatan Juhar, Camatnya Pulong Tarigan.
Kecamatan Kuta Buluh, Camatnya Masa Sinulingga.
Kecamatan Mardinding, Camatnya Nuriken Ginting.

3. Kewedanan Karo Jahe yang dipimpin oleh Keras Surbakti terdiri dari:
Kecamatan Pancur Batu, Camatnya Usman Deli.
Kecamatan Biru-Biru, Camatnya Selamat Tarigan.
Kecamatan Kutambaru, Camatnya Kelang Sinulingga.
Kecamatan Sibolangit, Camatnya Dame Gurusinga.
Kecamatan Namorambe, Camatnya Abdul Djebar Ketaren.

Setelah susunan pemerintahan di Tanah Karo dirubah maka Komite Nasional Indonesia Wilayah Tanah Karo berubah namanya menjadi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Karo. Selain menjadi Bupati Tanah Karo, Rakutta Sembiring Brahmana juga menjabat sebagai ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah bersama Selamat Ginting.

Pada tanggal 20 November 1947 Rakutta Sembiring Brahmana mengeluarkan uang tukar dengan nomor registrasi No.20490 dengan nilai Rp. 1000 per lembar. Uang Kabupaten diketik dan ditandatangani oleh Rakutta Sembiring Brahmana dan dibubuhi stempel Kabupaten. Dikeluarkannya uang tukar ini tidak terlepas dari kondisi Republik Indonesia yang belum stabil pada masa itu. Uang yang menjadi alat tukar yang sah dan berlaku di Kabupaten Karo ini merupakan Oeang Repoblik Indonesia atau yang disingkat dengan ORI. Peredaran uang kabupaten ini ternyata dapat mengurangi tingkat inflasi tetapi justru dapat meningkatkan perekonomian rakyat. Oeang Republik Indonesia ini dikeluarkan pada saat pusat pemerintahan Tanah Karo dipindahkan dari Kabanjahe ke Tigabinanga

Pada masa berlangsungnya Agresi Militer Belanda Ke II tepatnya pada tanggal 1 April 1949 diadakanlah perundingan antara Komanda Resimen IV Distrik X Mayor Djamin Ginting dengan komandan sektor III Sub-Terr VII Mayor Selamat Ginting. Dalam perundingan tersebut kedua belah pihak sepakat membagi daerah operasi pertempuran sebagai berikut, daerah operasi pasukan Resimen IV mulai dari sebelah kiri jalan raya Tiga Binanga sampai ke Berastagi dan dari Berastagi sampai ke Medan sebelah kiri dan kanan jalan raya, daerah operasi pasukan TNI sektor III mulai dari Kabupaten Dairi terus sebelah kanan jalan raya Lau Baleng Tiga Binanga Tongkoh termasuk daerah Silima Kuta Cingkes. Selain itu juga diputuskan untuk
membentuk Pemerintahan Pentadbiran Militer Kabupaten Karo. Berdasarkan surat keputusan No. 62/ist/dl, tanggal 4 April 1949 tentang susunan pemerintahan Pentadbiran Militer Karo yang dikeluarkan oleh A. Kawilarang sebagai berikut :
  1. Kepala PPMK : Rakutta Sembiring Brahmana
  2. Wakil Kepala I : Wedana Keras Surbakti
  3. Wakil Kepala II : Wedana Netap Bukit
  4. Kepala Sekertariat : Kantor Tarigan
  5. Kepala Keuangan : Tambaten Brahmana
  6. Wedana Karo Utara : Kendal Keliat
  7. Wedana Karo Selatan : Matang Sitepu
Rakutta Sembiring Brahmana memimpin Tanah Karo selama dua periode. Periode pertama yaitu sejak tahun 1946 hingga tahun 1949, dan periode kedua yaitu tahun 1949 hingga tahun 1953. Rakutta Sembiring Brahmana menjabat sebagai Bupati Tanah Karo dua kali berturut-turut tidak terlepas dari kemampuannya dalam memimpin daerah tersebut dan belum adanya pemimpin yang dianggap cocok oleh pemerintah untuk menggantikan beliau karena minimnya orang yang pernah mencicipi bangku sekolah pada masa itu. Lamanya periode kepemimpinan seseorang di suatu daerah pada periode tersebut tidaklah menjadi masalah selama dia masih mampu bekerja dengan baik.

Selama Rakutta Sembiring Brahmana menjabat sebagai bupati di Tanah Karo telah terjadi beberapa kali perpindahan pusat pemerintahan kabupaten. Hal ini tidak terlepas dari kondisi politik yang masih belum stabil. Adapun tempat kantor kepala pemerintahan Karo sejak Indonesia merdeka adalah sebagai berikut :
  • Kabanjahe, tahun 1945 - 31 Juli 1947
  • Tigabinanga, 31 Juli 1947 - 25 Nopember 1947
  • Lau Baleng, 25 Nopember 1947 - 7 Februari 1948
  • Kutacane, 7 Februari 1947 - 14 Agustus 1949
  • Tiganderket, 14 Agustus 1949 - 17 Agustus 1950
  • Kabanjahe, 17 Agustus 1950 hingga sekarang

Rakutta diangkat menjadi Bupati Asahan
Karier Rakutta Sembirng Brahmana tidak berhenti dengan hanya menjadi bupati di daerah kelahirannya Tanah Karo. Beliau kemudian dipercaya untuk memimpin di daerah lain yakni daerah Asahan sebagai bupati kedua menggantikan Abdullah Eteng. Rakutta Sembiring Brahmana dianggap pemerintah dapat memajukan daerah Asahan melihat hasil kerjanya selama ini yang cukup memuaskan.

Rakutta Sembiring Brahmana diangkat menjadi bupati Asahan pada tahun 1954. Pengangkatan Rakutta Sembiring Brahmana menjadi bupati di Asahan ini menunjukkan bahwa dia dapat memimpin di daerah orang lain. Hal ini menunjukkan satu prestasi bagi Rakutta Sembiring Brahmana.

Pada masa kepemimpinannya di Asahan, Rakutta Sembiring Brahmana mengajak masyarakat untuk memperhatikan kondisi pangan di daerahnya. Untuk tetap menjaga ketersediaan pangan khususnya beras beliau menganjurkan masyarakat untuk menanam padi. Rakutta Sembiring Brahmana melihat masyarakat asli Asahan tidak mempunyai minat dalam bersawah karena pada umumnya mereka hidup dari melaut, maka beliau mendatangkan orang-orang Karo yang berasal dari gunung untuk membuka persawahan di Asahan. Orang Karo ini merupakan orang-orang yang sudah terbiasa dengan kegiatan pertanian dengan demikan akan lebih mudah mengolah tanah yang ada menjadi persawahan-persawahan.

Pembukaan persawahaan di Asahan ini oleh Suku Karo menyebabkan semakin banyaknya orang Karo di Asahan. Rakutta Sembiring Brahmana sangat memperhatikan kondisi dari masyarakat pendatang yang khusus didatangkan untuk membuka persawahaan ini. Rakutta Sembiring Brahmana kemudian membuka perkampungan untuk orang Karo. Perkampungan ini masih ada hingga sekarang ini dan tetap dihuni oleh orang-orang Karo. Orang-orang Karo ini kemudian juga menjadi pemilik sawah-sawah yang ada di Asahan sekarang karena dahulunya nenek moyang merekalah yang membuka persawahan di daerah tersebut.

Selama memimpin di Asahan Rakutta Sembiring Brahmana juga membangun sekolah-sekolah. Hal ini dimaksudkan beliau untuk mempercepat kemajuan daerah yang dipimpinnya itu. Dengan adanya sekolah diharapkan akan lahir anak-anak terdidik yang dapat kelak memimpin daerahnya.

Pada masa masih menjabat sebagai bupati Asahan, Rakutta Sembiring Brahmana tidak hanya menjadi bupati saja. Rakutta Sembiring Brahmana juga merangkap sebagai walikota Tanjung Balai karena kekosongan pemimpin pada saat itu. Memegang dua tanggung jawab sekaligus adalah hal yang tidak mudah dilakukan, namun Rakutta Sembiring Brahmana dianggap pemerintah mampu memegang tanggung jawab yang sangat berat tersebut, dan beliau juga membuktikannya dengan hasil kerjanya selama memimpin dua daerah tersebut.

Meskipun Rakutta Sembiring Brahmana telah jauh dari tanah kelahirannya Desa Limang dan saudara-saudaranya, beliau tidak pernah melupakanya. Setiap ada waktu senggang beliau kerap kali mengajak anak dan isterinya kembali ke kampung halamanya untuk melepas rindu bersama. Beliau juga kerap kali meminta saudara-saudaranya untuk datang ke rumah dinasnya di Asahan.

Rakutta Sembiring Brahmana menjabat sebagai bupati di Kabupaten Asahan selama enam tahun. Rakutta Sembiring Brahmana memimpin di Kabupaten Asahan yaitu sejak tahun 1954-1960. Selama ia memimpin di Kaupaten Asahan dia berusaha memimpin dengan bijaksana dan tegas sehingga ia bisa di terima di wilayah yang bukan tanah kelahirannya.


Rakutta diangkat menjadi Walikota Pematang Siantar
Pada tahun 1960, Rakutta Sembiring Brahmana diangkat menjadi walikota Pematang Siantar. Untuk kedua kalinya Rakutta Sembiring Brahmana dipercaya pemerintah untuk memimpin daerah yang bukan daerah asalnya. Hal ini menunjukkan bahwa Rakutta Sembiring Brahmana mempunyai kualitas yang baik dalam memimpin.

Selama menjabat sebagai Walikota Siantar, Rakutta Sembiring Brahmana beserta anak dan isterinya tinggal di Jl Simbolon. Di sini beliau menempati rumah dinas yang telah disediakan oleh pemerintah bagi walikota yang sedang menjabat.

Pada masa memimpin Pematang Siantar banyak hal yang dilakukan oleh Rakutta Sembiring Brahmana terutama bagi masyarakat Karo. Beliau tidak pernah melupakan suku tersebut di mana pun beliau menjabat. Di Pematang Siantar beliau mendirikan perkampungan orang Karo yang berada di daerah Lau Cimba dekat Rambung Merah.

Meskipun Rakutta Sembiring Brahmana telah menjadi walikota dan mempunyai tugas yang sangat sibuk, beliau tetap aktif di dalam kegiatan-kegiatan adat. Beliau kerap kali mengikuti acara-acara adat yang dilakukan oleh sanak saudaranya juga rekan-rekan sepekerjaannya. Pada masa menjabat sebagai walikota Siantar, Rakutta Sembiring Brahmana membangun tempat orang-orang Karo mengadakan pertemuan atau pesta yang lajim disebut dengan jambur. Beliau juga tidak pernah meninggalkan hobbinya dalam bercatur terutama catur Karo. Setiap ada waktu senggang beliau menyempatkan diri untuk sejenak menikmati hobinya tersebut.

Terjadi perubahaan pada keyakinan yang dianut Rakutta Sembiring Brahmana sejak kecil hingga memimpin di Kabupaten Asahan. Rakutta Sembiring Brahmana awalnya menganut kepercayaan pemena. Perubahan tersebut terajadi setelah Rakutta Sembiring Brahmana menjabat sebagai walikota dan mulai bergaul dengan rekan-rekan kerjanya yang sudah menganut kepercayaan monoteisme.

Pergaulan Rakutta Sembiring Brahmana dengan rekan kerjanya dan tetangganya di Pematang Siantar membuka pemikiran beliau untuk merubah kepercayaannya. Rakutta Sembiring Brahmana tersentuh hatinya ketika melihat para rekan-rekannya itu menjalankan kegiatan keagamaan tersebut sehingga ia bermaksud untuk mengikuti jejak rekan-rekannya itu. Rakutta Sembiring Brahmana akhirnya menjadi penganut agama Kristen Protestan.

Rakutta Sembiring Brahmana menjabat sebagai walikota Pematang Siantar sejak tahun 1960-1964. Beliau hanya menjabat sebagai walikota selama empat tahun karena beliau kemudian tutup usia sehingga tidak dapat melanjutkan tugasnya.


Rakutta Tutup Usia Pada Tahun 1964
Setelah menjabat sebagai walikota di Siantar pandangan Rakutta Sembiring Brahmana terhadap kepercayaan berubah total. Awalnya Rakutta Sembiring Brahmana menganut kepercayaan pemena yang merupakan kepercayaan yang sudah berlangsung di Tanah Karo sebelum ajaran Islam dan Kristen masuk. Selama menjabat sebagai bupati di Tanah Karo dan Asahan, beliau tetap mempertahankan kepercaaan yang diturunkan oleh nenek moyangnya tersebut.

Berubahnya pandangan Rakutta Sembiring Brahmana terhadap kepercayaan yang dianutnya tidak terlepas dari peranan pegawai-pegawainya di kantor Walikota Pematang Siantar. Para pegawai yang bekerja di kantor Walikota yang dipimpinnya ini sebahagian sudah menganut ajaran monotheisme, dan mayoritas menganut agama Kristen Protestan. Melihat aktivitas keagamaan yang dijalankan oleh para pegawainya yang beragama Kristen tersebut menyebabkan Rakutta Sembiring Brahmana menjadi tertarik untuk mengubah kepercayaanya dari pemena menjadi Kristen Protestan.

Rakutta Sembiring Brahmana menjadi penganut agama Kristen Protestan yang resmi pada masa kepemimpinannya di Pematang Siantar. Rakutta Sembiring Brahmana kemudian mengajak isterinya dan anak-anaknya untuk mengikuti kepercayaan baru itu. Namun Rakutta Sembiring Brahmana tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada anak-anaknya untuk menentukan kepercayaan apa  yang terbaik menurut masing-masing buah hatinya itu. Beliau adalah sosok ayah yang sangat memberikan kebebasan kepada anaknya dalam hal menentukan keyakinan karena baginya itu adalah hak yang azasi bagi manusia.

Rakutta Sembiring Brahmana tutup usia pada tanggal 28 Januari 1964. Pada waktu tutup usia Rakutta Sembiring Brahmana berusia lima puluh tahun. Beliau meninggalkan satu orang isteri, enam orang anak, dan dua orang cucu. Cucu ini beliau peroleh dari putera sulungnya Brahmaputra Sembiring Kembaren yang pada saat itu telah berumah tangga.

Rakutta Sembiring Brahmana tutup usia di Kabanjahe. Sanak saudaranya berencana untuk memakamkan beliau di tanah kelahirannya Desa Limang bersama orang tuanya. Namun karena adanya permintaan dari pemerintah Kabupaten Karo dan teman-teman seperjuangannya selama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia untuk memakamkan beliau di Taman Makam Pahlawan yang berada di Kabanjahe.
Pemerintah menganggap bahwa Rakutta Sembiring Brahmana banyak sekali berjasa terhadap negara Indonesia sehingga beliau layak dimakamkan di tempat pahlawan-pahlawan Karo dimakamkan.

Acara pemakaman Rakutta Sembiring Brahmana diadakan di rumah yang berada tidak jauh dari makam pahlawan dengan acara adat Karo. Acara ini juga diikuti dengan acara militer. Pada upacara pemakaman ini banyak sekali teman-teman seperjuangannya dan rekan-rekan kerjanya selama memimpin di tiga wilayah yakni Kabupaten Karo, Asahan, dan Pematang Siantar yang datang melayat. Dalam acara ini juga turut menyampaikan ucapan belasungkawa teman seperjuangan dan separtai (Partai Nasional Indonesia), angkatan 45, dan beberapa generasi penerus TNI sektor III/Laskar Rakyat Resimen Napindo Halilintar.

Semua orang yang mengenalnya merasa sangat kehilangan. Isteri tercinta Ngamini br Sebayang sangat kehilangan sosok suami yang keras tapi penyayang, anak-anaknya kehilangan sosok ayah yang sangat menjunjung tinggi kedisiplinan sekaligus kebebasan, dan para teman-temannya kehilangan sosok pemimpin yang sangat propesional dalam bekerja.

Setelah acara liturgi menurut agama Kristen Protestan, jenazah Rakutta Sembiring Brahmana diserahkan oleh keluarga dan gereja kepada militer. Dengan upacara kebesaran militer jenajah dimakamkan di tempat peristerahatan terakhirnya Taman Makam Pahlawan.

Setelah Rakutta Sembiring Brahmana meninggal dunia dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kabanjahe, isteri dan anak-anaknya kemudian meninggalkan rumah dinas Rakutta Sembiring Brahmana di Pematang Siantar. Mereka kemudian menempati rumah peninggalan Rakutta Sembiring Brahmana di Medan. Rumah ini dibeli oleh Rakutta Sembiring Brahmana ketika beliau masih menjabat sebagai bupati Kabupaten Asahan. Rumah inilah satu-satunya peninggalan beliau kepada anak dan isterinya. Hal ini dikarenakan beliau adalah orang yang sangat menjunjung tinggi kejujuran sehingga beliau tidak mau melakukan korupsi untuk menambah harta bendanya.

Sepeninggal Rakutta Sembiring Brahmana, isterinya dan anak-anaknya melakoni kehidupan seperti rakyat biasa. Isteri Rakutta Sembiring Brahmana Ngamini br Sebayang kemudian bekerja sebagai petani untuk menghidupi kelima anaknya yang belum berumah tangga.

Nama Rakutta Sembiring Brahmana kemudian diabadikan oleh pemerintah khususnya Pemerintah Daerah Simalungun menjadi sebuah nama jalan di Pematang Siantar. Nama jalan tersebut adalah JL. Rakutta Sembiring Brahmana. Hal ini merupakan bukti penghormatan sekaligus penghargaan pemerintah terhadap jasa-jasa yang diberikan oleh Rakutta Sembiring Brahmana selama hidupnya.

















SUMBER

2 comments:

  1. Mejuahjuah Mama Irwan Tambun,
    Saya Johan Brahmana, salah satu kempu Nini Laki Rakutta Brahmana.
    Saya bertererimakasih atas posting yg kam lakukan. Sungguh besar teimaksih saya. Seandainya kita bisa jumpa, maka pantaslah saya mentraktir ...hahaha.
    Aku tinggal di Cileungsi Bogor.
    Sedikit koreksi bahwa anak nek laki Malem dg bayang Mulia, 2 lakilaki yaitu laki Jumpa dan laki Riah. sedangkan 3 biring yg lain sudah pas,
    Sampai ketemu, Mama.
    Bujur. Dibata simasumasu,

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahah ok lah traktir nanti ya kalau jumpa kita.

      ok terima kasih atas koreksinya, Bujur

      Mejuah-Juah

      Delete