Taneh Karo Simalem Bumi Turang

06 February 2011

Sejarah Moria di GBKP


Persekutuan perempuan Karo dimulai dengan persekutuan perempuan dan para pemudi yang dipelopori oleh Nr.Van Den Berg, Ny.Dr, de Klein, Suster Meyer, Pertumpun Purba, Nimai Purba. Dengan mengingat bagaimana pentingnya peranan perempuan-perempuan ini baik dalam mendukung pelayanan di Gereja maupun di masyarakat, maka pada waku itu sudah dianggap perlu untuk mengadakan pertemuan. Maka diadakanlah pertemuan pertama yang dihadiri oleh 24 orang di sekolah Christelyke HIS Kabanjahe, yang dinamai dengan CMCM (Christelyke Meisjes Club Maju) yang berdiri pada tanggal 30 Juli 1930. Adapun program yang dilakukan kelompok ini adalah : bernyanyi, berdoa, koor, membaca dan menulis; pengetahuan umum yaitu: kesehatan dan kebersihan, menata dan melayani jamuan makan, menjahit dan tata boga. Setelah Nr. Van Den Berg kembali ke negeri Belanda, maka tugasnya digantikan oleh Nr. Pdt. Neuman Bosch dan Nr.Pdt. Vuurmans.

CMCM ini semakin lama semakin berkembang dalam seluruh programnya dan pada bulan Agustus 1934 membuat pertemuan untuk membicarakan kelanjutan persekutuan ini yang dipimpin oleh Nr. Pdt. Neuman dan pada saat ini terbentuk kepengurusan sebagai berikut:
Ketua I : Nora Pdt. Neuman Bosch
Ketua II : Nimai Br Purba (Nd. Paulus)
Sekretaris I : Loise Br Sembiring (Nd. Felix)
Sekretaris II : Kesena Pohan
Penning meester I: Bakul Br Ginting Suka Penning meester II : Ngire Br Sembiring
Commisarissen : Nora Pdt. Vuurmans, Pertumpun Br Purba, Suster Meyer

Kepengurusan ini tidak berlangsung lama, kemudian pelayanan ditangani langsung oleh Nora Pdt. Neuman dengan membentuk staf yaitu:
Ketua I : Nora Pdt. Neuman Bosch
Ketua II : Nora Pdt. Vuurmans
Sekretaris I : Ny. Pdt. Schoonhoven
Sekretaris II : Suster Meyer
Penning meester I : Ny. Dr. de Kleijn
Penning meester II : Ny. Smith
Juga dibantu oleh beberapa orang commisarissen, yang kemudian menjadi pengurus CMCM. Oleh karena semakin banyak yang masuk ke dalam kelompok ini, maka disediakan guru untuk mengajar. Kelompok CMCM semakin berkembang ditengah perempuan Karo yang diikuti dengan berdirinya beberapa club CMCM di Kabanjahe, yaitu :
~ Club untuk anak-anak
~ Club untuk remaja
~ Club untuk pemudi
~ Club untuk kaum ibu

Dengan bertambah majunya CMCM ini maka beberapa kegiatan seperti koor, membaca, menulis, pengetahuan umum umpamanya kesehatan dan kebersihan, menyediakan teh, makanan dan menghidangkannya juga bertambah. Pada awalnya memang yang menjadi guru adalah Nora pendeta tetapi kemudian siswa yang sudah mampu melakukannya secara bergantian ikut mengambil bagian. Akhirnya, dianggap perlu menyediakan guru buat CMCM ini. Guru yang pertama yaitu, Bakul br Ginting Suka (Nd.Rasmita) dan Perembahen br Barus. Dalam perjalanannya, semakin nyatalah yang menjadi tujuan dari CMCM ini yaitu, Mengabarkan Kabar Baik, Mengajak dan mendukung agar anak-anak perempuan dapat mengenyam pendidikan, Memberantas poligami, Mengadakan kursus yang berguna untuk anak-anak perempuan (gadis) dan juga kaum ibu. CMCM berkembang terus menerus karena mendapat dukungan baik moril maupun material dari raja-raja di Tanah Karo, dan semua yang menjadi pengurus dan guru-guru terlibat secara aktif. Oleh karena perkembangannya semakin pesat maka berdirilah CMCM di wilayah Karo Gugung dengan bantuan Raja-raja di Tanah Karo, CMCM di Karo Jahe. Pada tahun 1937 guru CMCM angkatan yang ke-2 ada sebanyak 7 orang yaitu ;
  1. Hanna Br Munthe
  2. Ngendes Br Sembiring
  3. Christina Br Meliala
  4. Nungkun Br Ginting
  5. Nawari Br Tarigan
  6. Megiken Br Sinuraya
  7. Rehulina Br Ketaren
Selanjutnya angkatan yang ke- 3 yaitu :
1. Lemah Br Sinulingga
2. Tendung Br Sinulinga
3. Lidia Br Ginting Suka
4. Martha Br Munthe
5. Martha Br Munthe (Karo Jahe)
6. Lina Br Munthe
7. Perngis Br Brahmana
8. Permisi Br Tarigan
9. Cakap Br Brahmana (Karo Gugung)

Dalam perkembanganna CMCM ini semakin luas tidak hanya di Karo Gugung, tapi terus ke Karo Jahe (umpamanya: Kuta Tualah, Delitua, Peria-ria, Kutajurung, Sibolangit, Buluhawar dan Bingkawan). Pada tanggal 13 Maret 1942 tentara Jepang datang ke Indonesia, semua orang Belanda ditangkap, termasuk Pendeta-pendeta Belanda yang diutus oleh badan Zending kepada masyarakat Karo. Dalam situasi demikian, pelayanan dan program menjadi terhambat dan mandek. Kemudian pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang mengalami kekalahan dalam peperangan, dimana kota Nagasaki dan Hirosima hancur dibom atom oleh tentera Sekutu. Maka pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka, dan selanjutnya bekas anggota CMCM mulai melanjutkan perkumpulannya. Beberapa perempuan baik tua dan muda baik itu yang ada di Kabanjahe maupun yang ada di Berastagi, Surbakti, Pancur Batu, Sibolangit, Medan yaitu wilayah yang sudah ada jemaat (gereja) GBKP.

Akhirnya banyaklah anggota dari CMCM ini yang mengaku Yesus Kristus'lah yang menjadi Juruselamatnya dan kemudian menerima untuk dibabtiskan. Demikianlah perempuan
kemudian memperlihatkan keaktifan mereka dalam kehidupan berjemaat dengan membuat dan melaksanakan program mengunjungi yang berdukacita, mengunjungi anak yang baru lahir, membaca dan menelaah Alkitab, bernyanyi, berdoa dan koor. Untuk mendukung kegiatan ini dan untuk keseragamannya akhirnya mereka membuat kepengurusan perempuan (ibu) baik itu di wilayah Karo Jahe maupun Karo Gugung. Pengurus-pengurus tersebut terus menerus melakukan kontak, hubungan Pengurusnya adalah Nd.Rasmita br Ginting Suka (Bakul br Ginting Suka), Nd.Wasti br Tarigan, Nd.Sutradara br Purba, Truida br Girsang, Nd.Julia br Bukit, K.Muham, Nd.Felix, semuanya berharap agar persekutuan kaum ibu ini seragam dan bersatu. Dan akhirnya mereka inilah semua yang menjadi pengurus Moria GBKP. Melalui Majelis (Runggun Gereja) diusulkan ke Sidang Synode tahun 1956 di Tigabinanga, dibicarakanla agar ada satu organisasi perempuan. Dalam persidangan ini terjadi pro dan kontra tapi keputusannya, sidang merasa baik adanya membuat satu organisasi ditengah-tengah gereja GBKP khusus kaum ibu, untuk menjadi satu organisasi yang baik dan teratur supaya persekutuan ini tidak jauh dari GBKP tapi di dalam GBKP. Dan tujuan lain supaya kegiatan kaum ibu dapat bersatu dan mendukung aktivitas perempuan. Kemudian untuk realisasi persetujuan sidang tersebut maka sinode GBKP menunjuk Gr.Ag.Rachel Sinuraya untuk mempersiapkan rencana pertemuan dan mempersiapkan anggaran dasarnya.

1 comments:

  1. so proud that my grandma was one of them :)

    ReplyDelete