Taneh Karo Simalem Bumi Turang

14 Januari 2011

Mesur-Mesuri

atau Maba Manok Mbor adalah suatu upacara “nujuh bulan” bagi seorang wanita yang sedang hamil. Upacara adat ini bila dilakukan terhadap wanita yang mengandung anak pertama disebut dengan Mesur-Mesuri dan bilamana dilakukan untuk anak kedua dan seterusnya disebut Maba Manok Mbor atau Mecah-Mecah Tinaroh.

Tujuan dari upacara ini adalah untuk mempersiapkan si ibu secara psikis agar selamat dalam melahirkan bayinya. Maksudnya adalah barangkali ada tekanan-tekanan psikis selama ini yang dialami oleh calon ibu dalam rumah tangganya baik oleh suaminya, mertuanya dan keluarga dekat lainnya.

Bilamana hal ini ada maka diadakanlah penyelesaian terlebih dahulu secara adat kekeluargaan dalam arti saling maaf-memaafkan agar si calon ibu tersebut dalam melahirkan bayinya dalam keadaan sehat sejahtera dan selamat.
Peralatan-peralatan yang diperlukan dalam upacara tersebut adalah:
  1. Sebuah pinggan pasu tempat mukul.
  2. Uis teba/arinteneng untuk lanam pinggan pasu.
  3. Belo cawer ditaruh di bawah pinggan.
  4. Amak cur untuk tempat duduk.
  5. Ayam untuk sangkep.
Upacara mesur-mesuri tersebut diawali dengan ayam sangkep ditaruh diatas pinggan pasu beralaskan uis arinteneng dan belo cawer. Ayam sangkep ditata secara lengkap (utuh) dan ditambahkan dengan sebutir telur ayam.
Kemudian wanita yang hamil tujuh bulan tersebut beserta suaminya di dudukan diatas amak cur (tikar) lalu diberi makan dengan lauk ayam sangkep serta telur tersebut. Barulah setelah mereka makan, maka keluarga (sangkep enggeluh) yang hadir makan secara bersama-sama.

Selesai makan maka dilanjutkan dengan musyawarah keluarga (runggun) untuk membicarakan hal-hal sebagai berikut:
  • Makna dari telajor ayam sangkep yang telah diteliti/diramal maknanya.
  • Menek-memenek (saling kecewa satu sama lain/akar pahit) antara satu sama lain dalam kalangan keluarga (suami istri, orang tua, dsb).
  • Keinginan yang belum tercapai.
Bilamana ada masalah-masalah diatas dibukakan, maka pihak keluarga berusaha memberikan saran-saran (nasihat) bagaimana menyelesaikan masalah tersebut secara kekeluargaan dengan dasar kekelengen (kasih).

2 komentar:

  1. thx infonya, trus si calon ibu dan si calon bapak pada saat acara itu pakai baju apa?

    BalasHapus
  2. Menurut saya, biasanya si calon bapak dan ibu memakai pakaian adat, dan bisa juga tidak menggunakan pakaian adat, dan itupun berdasarkan kesepakatan dari kedua belah pihak.

    BalasHapus