Taneh Karo Simalem Bumi Turang

09 November 2010

Perumah Begu


Setelah selesai acara penguburan, pada malam harinya roh yang meninggal tersebut dipanggil melalui Guru Sibaso
(dukun yang lehernya bisa mengeluarkan bunyi-bunyi tertentu dan bisa ditafsirkan oleh dukun tersebut).
Acara ini dilakukan setelah makan malam, dan acara tersebut diiringi oleh musik (gendang).

Acaranya dimulai dengan tabuhan gendang perang sebanyak empat kali berturut-turut sebagai berikut :

  1. Gendang perang pertama dibuang (tidak ada yang menari) dahulu di peruntukan bagi roh-roh leluhur yang telah meninggal dunia terlebih dahulu, tetapi sekarang disebut sebagai Gendang Persikapken (siap-siap).
  2. Gendang perang kedua menari sukut, sembuyak, senina.
  3. Gendang perang ketiga menari kalimbubu, puang kalimbubu.
  4. Gendang perang keempat menari anak beru dan anak beru mentri.
Selesai Gendang perang empat kali tersebut, maka menari Guru Sibaso agar ia kesurupan roh dari yang telah meninggal dunia tersebut dan juga roh-roh keluarga yang telah meninggal dunia terlebih dahulu.

Biasanya melalui guru (dukun) tersebut roh yang baru meninggal tersebut ataupun roh para keluarga yang telah meninggal dunia terlebih dahulu dimaksud akan berbicara melalui guru/dukun tersebut.
Sang guru akan berbicara tentang kesan dan pesan keluarga yang baru ditinggalkan dan biasanya tentang peristiwa-peristiwa masa lalu yang berkesan dan kemudian memberi pesan-pesan tertentu kepada keluarga yang ditinggalkan.

Upacara-upacara yang seperti ini dan biasanya sang Guru Sibaso tersebut sebelum acara dimulai melakukan sejumlah penyelidikan kepada keluarga yang baru meninggal tersebut. Hal-hal terutama yang diselidiki adalah kebiasaan-kebiasaan si meninggal dan keluarga dekatnya, sifat-sifatnya dan segala hal ihwal dari keluarga tersebut.

Dan ketika roh-roh yang dipanggil tersebut sudah datang, dan berbicara melalui Guru Sibaso dimaksud maka segala apa yang telah diselidiki terlebih dahulu itu keluar dari mulut Guru Sibaso tersebut yang seolah-olah roh si matilah yang berbicara.

No comments:

Post a Comment