Taneh Karo Simalem Bumi Turang

09 November 2010

Gendang Adat Nuruken Simate

Gendang Adat Nuruken Simate (Gendang Penguburan), sebagian mayat dikuburkan diadakan pesta adat penguburan dan setelah mayat dibawa dari rumah ke kesain, terlebih dahulu keluarga dekat dan anak rumah membuat sirang-sirang yakni kuku kaki dan tangan dikikis dipasang pada daun sirih dan dimasukan kedalam peti mati.

Dilanjutkan dengan Erpangir bas pas-pasen (halaman teras rumah) bagi si janda atau duda yang ditinggal mati dilangir dengan lau penguras (air jeruk purut, jera) dan tentu saja dengan mantra-mantra tertentu.

Kemudian acara dilanjutkan dengan tek-tek ketang, dimana diambil sebilah rotan ditaruh bantalan kayu dan dipotong dengan pisau (parang/sekin) sekali tetak dengan tangan kiri.
Menurut kepercayaan bilamana dengan sekali tetak rotan tidak putus maka janda atau duda yang ditinggal mati tak lama lagi akan menyusul yang mati alias meninggal dunia pula.

Acara kemudian dilanjutkan dengan Gendang Jumpa Teroh, tapi bagi sebagian daerah hal ini tidak ada.
Kemudian acara dilanjutkan dengan upacara Gendang Nangketken Ose.

Menurut adat Karo, pertama kalinya gendang dilaksanakan tanpa diikuti penari-penari (gendang dibuang sekali).
Gendang ini adalah acara bagi roh-roh leluhur yang sudah meninggal dunia, tapi sekarang gendang ini disebut Gendang Pesikapen (bersiap-siap).

Source Code

No comments:

Post a Comment