Taneh Karo Simalem Bumi Turang

01 Desember 2009

Deleng Pertektekken


Deleng Pertektekken dikenal sangat angker.
Apapun yang melintas di atasnya akan jatuh dan mati.
Kabarnya, tempat ini adalah tempat pembuangan ilmu sakti dari seorang dukun. Konon, jatuhnya pesawat Foker di sekitar pegunungan Sibayak disebabkan pula oleh keberanian awak pesawat tersebut melintasi daerah keramat ini.
Jangankan pesawat, kupu-kupu atau burung yang berani terbang di atas Pertektekken akan mati secara mengenaskan.
Memang, daerah yang terletak di kaki bukit Pertektekken di bagian Selatan dan berdekatan dengan gunung Sibayak memiliki kisah mistik yang menyeramkan.
Kisah itu berawal dari sebuah desa, Doulu yang hanya berjarak beberapa kilometer dari tempat ini.
Doulu terletak di bagian Selatan kota Medan, kira-kira 55 kilometer.
Konon di desa Doulu ada sepasang dukun sakti yang bernama Pawang Ternalem dan Beru Patimar.

Dikisahkan sepasang dukun tersebut sering mengembara ke berbagai daerah untuk melakukan pengobatan dengan meninggalkan kedua anakanya.
Kabarnya ketika mereka mengembara, kedua anaknya jatuh sakit.
Seorang tetangga mengabarkan berita menyedihkan ini kepada sepasang dukun tersebut.
Namun Pawang Ternalem dan istrinya menolak pulang.
Mereka berpikir, kalaupun anaknya sakit atau sampai meninggal dunia mereka toh bisa menghidupkan lagi.
Benar, selang beberapa saat tetangganya datang lagi dan mengabarkan bahwa anaknya telah meninggal dunia.
Sepasang dukun sakti ini enggan untuk pulang.
Pasalnya, hanya dengan satu centimeter tulang yang masih tersisa mereka mampu menghidupkan kembali anaknya.
Sial tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih.
Ketika Pawang Ternalem pulang ke rumah, didapati kuburan anaknya telah kosong.
Kabarnya, jasad anaknya telah dicuri oleh dukun yang lebih sakti lagi.
Ia adalah Nini Kertah Ernala, penunggu gunung Sibayak.
"Bila ingin bertemu bentangkan kain putih.
Ingat, jangan menjamah anak itu karena bayangan tersebut akan lenyap," pesan Nini Kertah.
Sepasang dukun tersebut menjalankan pesan Nini Kertah.
Ketika mereka membentangkan kain putih maka wajah kedua anak itupun muncul.
Karena rindu yang begitu mendalam, Beru Pattimar memeluk kedua anaknya.
Namun bayangan itupun tiba-tiba menghilang.
Pasangan tersebut sangat terpukul dengan kematian anaknya.
Apalagi mereka tak mampu menghidupkan lagi.
Rasa kecewa yang mendalam menyebabkan mereka sepakat untuk membuang ilmunya.
"Apalah artinya ilmu dan kekayaan yang kita miliki kalau anak kita tak bisa kembali.
Marilah sekarang juga kita buang semua ini," katanya sambil menuju ke sebuah kaki bukit.
Sebelum memotong alat perdukunannya, Beru Pattimar sempat bersumpah, "Apapun yang nantinya melintas di atas kepalaku akan mati".
Seketika tempat itupun seperti meledak, menerima sumpah saktinya.
Kabarnya sumpah sakti dari Beru Pattimar benar-benar menjadi kenyataan.
Penduduk yang mencari kayu di tempat ini sering menemukan bangkai burung yang mati.
Malah mereka pun sering menemukan bangkai harimau atau beruang yang mereka ambil kulitnya untuk membuat perhiasan.
Benarkah sumpah sakti itu yang menjadi sumbernya?
Hanya Tuhan Yang Tau...

4 komentar:

  1. Mungkin perlu koreksindu, mpal. Simbenterken ilmuna bas deleng ena labo Pawang Ternalem ras Beru Pattimar, tapi Guru Pertawar Reme sikuburken bas Kandibata
    Sibarem Bujur
    Billy Sembiring

    BalasHapus
  2. Tapi Info si kudat Pawang Ternalem ras Beru Pattimar simbenterken ilmuna labo Guru Pertawar Reme.

    BalasHapus
  3. sepertinya perlu koreksi kembali lah pal informasi nya, karena isi cerita nya menyerupai Guru Pertawar Reme, Jadi yang mana satu yang benar. Bujur

    BalasHapus